BERBAHAGIALAH BILA SUDAH MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN ANAK SEJAK DINI







Memiliki buah hati adalah suatu permohonan yang bila dikabulkan maka rasa syukur akan bertambah.Semuanya menjadi sempurna. Anak anak bisa menemani hari hari hidup kita dengan canda tawa bahkan tangisnya pun kadang membuat kita bahagia dan rindu serindu rindunya. Begitupun dengan kami. Usia pada saat pernikahan kami diatas 30 tahun. Usia yang cukup matang secara mentalitas untuk mengawali suatu kehidupan baru. Apalagi kesempatan memiliki anak juga diberikan. Anak pertama saat ini berusia 2 tahun 6 bulan dan anak kedua berusia 10 bulan. Perencanaan jarak mereka memang kami sengajakan. Usia si sulung satu tahun , istri saya hamil anak kedua. Alhamdulillah semuanya berlangsung lancar dan persalinan keduanya pun dilakukan secara normal. Sekarang hari hari kami penuh dengan kesibukan, selain sibuk bekerja namun sibuk juga dalam mengurus kedua anak . Di rumah kami tanpa Babby Sitter atau asisten rumah tangga. Semuanya kami kerjakan berdua baik mengurus anak maupun yang lainnya. Rumah pun kadang berantakan tak karua karuan kalau kedua jagoan kami bermain. Sungguh sangat menyenangkan dibuatnya. Sedikit flash back ke belakang. Saya dan istri dari keluarga yang berjumlah besaratau banyak , Saya sendiri adalah anak ke Sembilan dari sepuluh bersaudara. Sedangkan Istri Saya anak kedua dari enam bersaudara. Jangan bertanya kenapa orang tua kami banyak anak? Selain tuntunan agama banyak anak banyak rezeki , hitung hitungan orang tua kami tentang kesuksesan mereka hanya mereka saja yang pandai, Kami kemungkinan akan berfikir seribu kali bila harus memiliki banyak anak, terutama untuk kondisi saat ini. Dalam pemikiran kami , kesuksesan mereka dalam pendidikan  anak anak mereka hingga perguruan tinggi adalah sebuah tahap standarisasi yang harus kami capai dan dilakukan untuk anak anak kami. Minimal sama bisa menyekolahkan dua buah hati kami hingga perguruan tinggi, maksimal menyekolahkan mereka hingga mereka sanggup dan inginkan mau sampai mana apakah S2 atau S3 baik di dalam maupun di luar negeri. Kenapa demikian? Orang tua saya adalah orang tua yang tak memiliki kesempatan bersekolah. Ayah menjadi tulang punggung keluarga besarnya dan tak pernah menamatkan bangku sekolah , menurut cerita, Sekolah Rakyat pun tak pernah tamat. Bukan pula kemiskinan yang menimpa keluarga ayah saya, tidak bukan itu, namun sebuah tanggung jawablah yang menjadikan ayah saya tak mau melanjutkan sekolahnya demi adik adiknya yang lainnya. Bahkan ayah saya dengan kerja kerasnya mampu membiayai kesepuluh anak anaknya dan adik adiknya sekalian. Seperih apapun yang saya berikan untuk membalas kebikan hati orang tua mungkin tak kan pernah bisa membalas setetes keringat yang dikeluarkannya demi kami. Hingga kini jasa beliau selalu terpatri dalam ingatan , bahwa anak anak saya harus bersekolah tinggi melebihi saya sebagai orang tuanya. 

PERMASALAHAN PERENCANAAN KEUANGAN 
Sebenarnya permasalahan orang tua yang tak bisa menyekolahkan anaknya hanya dua : Tidak punya dana pendidikan anak Tidak Punya Kemauan Bekerja Keras Hanya dua itu saja, banyak kisah bagaimana orang tua yang hanya berjualan di emperan toko, dengan etalase kecilnya menjual dan memperbaiki jam, Kini kedua anaknya menjadi orang hebat dan terkenal . Bagaimana seorang tukang becak memiliki anak yang sekolah tinggi dan mendapat predikat wisudawan terbaik dan banyak kisah inspiratif lainnya. Masih tak percaya, coba saja cek di sekitar kita, di mana orang yang sukses adalah orang yang mau bekerja keras dan memanfaatkan waktunya sedemikian hebat untuk keluarganya dengan semangat kebaikan di dalamnya. 

DASAR SEBUAH PERENCANAAN KEUANGAN YANG BAIK

Kekhawatiran akan kemiskinan;
Kekhawatiran akan pendidikan  anak;
Aksi yang continue berkesinambungan.

Berbicara mengenai kemiskinan, tidak ada alasan lain kecuali berubah. Masa depan bisa dirubah dengan usaha dan doa. Pun begitu dengan permasalahan rencana pendidikan anak sekolah nantinya. Sebagai informasi kenaikan biaya pendidikan itu sekitar kurang lebih 10 persen setiap tahunnya. Jadi kalau anak kita masih berusia 0 bulan sampai dengan 18 tahun saat kuliah , bisa dihitung berapa persen kenaikan biaya pendidikannya. Sebagai contoh , saat kuliah di awal tahun 98 biaya pendidikan per semester adalah 360 ribu rupiah, kemudian pada Tahun 2008 sepuluh tahun kemudian biaya nya naik bukan sekitar ratusan ribu lagi tapi melonjak hingga jutaan per semesternya. Belum lagi biaya kost, biaya makan sehari hari, biaya transportasi dan lain sebagainya. 

Usia orang tua sebagai contoh 30 tahun , 18 tahun kemudian usia nya menjadi 48 tahun dan masih produktif untuk bekerja sampai usia pensiun 58 tahun. Orang tua menabung pendidikan anaknya di bank konvensional semisal 1 juta per bulannya atau 12 juta per tahunnya. Taruhlah kita menabung selama sepuluh tahun. Tahun pertama 12 juta, tahun kedua 12 juta ,tahun ketiga 12 juta sampai dengan 10 tahun total keseluruhan adalah 12 x 10 tahun = 120 juta (ditambah bunga, dikurangi pajak dan biaya rupa rupa). Menjadi orang tua seperti ini adalah dambaan terutama bagi anak anaknya karena orang tua punya kesadaran akan perlunya jaminam pendidikan mereka. Namun apakah hitungan seperti itu adalah sesuatu yang ideal ? Tentu saja akan ideal bila orang tua mengetahui informasi mengenai : di mana universitas yang menjadi tujuannya ; Mengetahui besaran nilai pendidikan yang menjadi acuan di tahun di mana anaknya kuliah yang diinginkan. Nilai 120 juta tentulah sangat besar , baik saat ini maupun saat di masa depan. Pertanyaannya sekali lagi apakah dana ini sudah cukup atau jangan jangan-jangan hanya pas untuk membayar uang masuknya saja? Apalagi kalau sang anak ingin masuk ke fakultas unggulan dan jurusan faviorit semisal kedokteran atau masuk ke fakultas teknik sipil yang luar biasa memakan biayanya. Secara kasat mata uang 120 juta tentulah akan cocok untuk tahun sekarang  namun kemungkinan tidak akan cocok untuk masuk ke fakultas kedokteran baik di universitas negeri maupun swasta di sepuluh tahun kemudian. Belum lagi ditambah dengan biaya kehidupan sehari hari, kost,transport,makan minum,buku dan lain sebagainya. Sebagai contoh lagi, ada anak atasan di kantor , yang masuk ke perguruan tinggi swasta di daerah Karawaci .Univeristas swasta ini cukup terkenal. Biaya masuk salah satu fakultas adalah kurang lebih 150 juta belum dengan biaya biaya lainnya. Dari patokan ini saja bila memiliki nilai tunai sebesar 120 juta sepuluh tahun kemudian tentu tidak akanlah cukup untuk masuk ke jurusan yang sama di univeristas swasta ini. Lagi lagi pikiran kita dihantui ketidakberdayaan.

Untuk perguruan tinggi negeri semisal di Universitas Indonesia , biaya operasional pendidikan (BOP) per semester untuk fakultas kedokteran (regular) adalah Rp 7.500.000,- . Asumsi tidak ada kenaikan biaya per semester, maka untuk sampai lulus kuliah target 4 tahun . Maka 4 tahun x 2 semester = 8 semester x Rp 7.500.000 = Rp 60.000.000,- (Enam Puluh Juta rupiah) belum ditambah biaya biaya lainnya. Biaya keseluruhan untuk delapan semester adalah Rp 60.000.000, -

Bisa dibayangkan pada saat anak Saya kuliah nanti di 17 tahun ke depan . Berapa biaya yang harus Saya siapkan nantinya? Tentunya banyak sekali ya? 
  
HITUNGLAH DENGAN RUMUS FUTURES VALUE 

Cara Menghitung Berikut ini adalah langkah – langkah dalam menghitung biaya kuliah dia masa depan: Kita mesti membuat asumsi kenaikan biaya per tahun. Angka yang biasa dipakai adalah 10% sama dengan rata – rata inflasi tahunan di Indonesia. Atau kalau mau lebih aman pakai kenaikan 20%. Lalu ubah ke dalam bentuk desimal. Contoh 10% menjadi 0,1. Atau 20% menjadi 0,2. Kita mesti tahu berapa jumlah biaya sekarang, lalu biaya inilah yang akan hitung besarnya di masa depan. Anggap saja kita tahu kalau Uang Pangkal (UP) suatu Perguruan Tinggi Negeri tahun ini adalah 40 juta. Maka biaya inilah yang akan kita prediksi nilainya di masa depan. Tentukan jangka waktunya. Misalnya anak Saya sekarang umurnya 1 tahun dan umur kuliah umumnya 18 tahun, berarti kita akan memprediksi biaya kuliah 17 tahun yang akan datang. Lalu hitung dengan rumus Future Value berikut:
 FV = B (1 + Kenaikan)n 
FV = Biaya di masa depan 
B = Biaya sekarang n = Jangka waktu 
Contoh: Uang Pangkal di Perguruan Tinggi X tahun ini adalah 40 juta. Berapakah Uang Pangkal tersebut 17 tahun yang akan datang. Asumsi kenaikan biaya pendidikan adalah 10% per tahun, desimalnya 0,1. 

FV = 40 juta (1 + 0,1)17 FV = 40 juta (1,1)17 FV = 40 juta X 5,05 FV = 202 juta
 Jadi uang pangkal tersebut 17 tahun yang akan datang adalah Rp 202 .000.00, - (Dua Ratus Dua Juta Rupiah) . Angka tersebut hanya dari uang pangkalnya, dengan asumsi pendidikan negeri, bila si anak ingin kuliah di swasta mungkin akan lebih banyak lagi yang harus di siapkan ditambah biaya uang makan,, biaya kost kalau di luar kota, biaya makan minum, transmportasi, buku kuliah dan lain sebagainya. 
Rencana pendidikan itu tidak ada kata terlambat. Mau anak belum sekolah maupun sudah sekolah, merencanakan pendidikan itu haruslah berjalan. Bila nilai tunai yang ditabungkan tidak mencukupi janganlah merasa khawatir, gunakan instrument investasi lainnya semisal deposito,logam mulia,reksadana atau saham dan bisa juga melalui asuransi pendidikan yang menjadi primadona akhir akhir ini. Khusus Asuransi Pendidikan , banyak pilihannya kita pun harus bijak memilah dan memilih mana asuransi yang cocok untuk pendidikan anak anak kita di masa depan secara Mandiri. Namun yang jadi perhatian adalah orang tua hendaklah memiliki asuransi jiwa terlebih dahulu sebelum memiliki asuransi pendidikan anak mereka. 

Kenapa demikian? 

Asuransi Pendidikan anak bisa berjalan bila premi asuransi terus dibayarkan oleh orang tua per term waktu (setiap bulan,pertiga bulan,per enam bulan atau pertahun) . Tentu saja orang tua harus yang masih aktif menghasilkan uang untuk membayar preminya. Contoh : Bapak X usia 30 tahun memiliki anak usia 1 tahun 
( 18 tahun masa menabung) Memiliki Uang pertanggungan jiwa senilai 500 juta (bila terkena 3 resiko kehidupan semisal sakit kritis,cacat tetap total, dan meninggal dunia) Memiliki keinginan mempunyai asuransi pendidikan anak dengan target 500 juta pada saat anak masuk kuliah.

Bila Bapak X ini masih aktif bekerja maka dia masih ada kesempatan untuk menabung dengan rencana  pendidikan anak sampai usia anak 18 tahun dan target dana tercapai . Sebagai ilustrasi imbal hasil dari asuransi kurang lebih 10s.d 15 persen bunganya per tahun. Namun, bila si orang tua semisal baru 5 tahun menabungkan dana pendidikan anaknya dan keburu resiko kehidupan semisal meninggal dunia terjadi, maka si anak tak perlu khawatir dana pendidikannya tidak tercapai. Asuransi akan membayarkan uang pertanggungan orang tuanya senilai 500 juta tadi di tambah dengan nilai tunai selama 5 tahun pembayaran. 

Di beberapa perusahaan asuransi ada fasilitas si anak akan bebas premi dan dananya akan tetap berlangsung dibayarkan oleh asuransi sampai usia anak maksimal 25 tahun. Jadi dana pendidikan akan tetap terjamin. Dengan rencana pendidikan seperti ini, tentulah orang tua melakukan sesuatu yang bijak. Memastikan pendidikan anaknya terjamin meski ada kehilangan faktor keekonomian karena orang tua tidak ada lagi di dunia. 

 Hal ini pun menjadi sesuatu yang saya camkan sejak kejadian meninggal dunianya ayah pada saat saya memasuki kuliah semester kedua. Keuangan yang biasanya lancar di awal awal kuliah menjadi tersendat bahkan berkurang drastis karena faktor tidak ada lagi sumber penghasilan dari orang tua.Semua orang dir rumah menjadi panik, terutama Ibu Saya yang khawatir akan nasib anak anaknya yang masih bersekolah. Ibu Hanya memiliki aset aset seperti tanah, rumah dan harus dijual demi bisa membantu kami agar bisa lulus dan wisuda di perguruan tinggi. Aset tangible (asset yang terlihat) seperti tanah,ruko,rumah,emas dan lain sebagainya tak perlulah sampai di jual. Karena malah menimbulkan masalah baru dalam perencanaan keuangan.

 Tak perlu dikorbankan peninggalan dari orang tua semisal force majeur terjadi. Kita bisa mengantisipasinya bila kita memiliki asuransi pendidikan yang pas untuk anak anak nantinya. Asuransi pendidikan bisa dilakukan oleh siapa saja , tak perlu   pendidikan khusus dan pekerjaan yang hebat. Seorang pedagang sayur di pasarpun bisa mempunyai asuransi pendidikan untuk anaknya asal di edukasi dengan baik. Saya pernah berdialog dengan pedagang sayur mayur yang kebetulan adalah tetangga saya sendiri , anaknya saat itu masih berusia 8 tahun. Saya menyatakan bahwa anaknya bisa kuliah di universitas terbaik bila memiliki dana yang cukup . Dia mengatakan tidak mungkin dananya dia gak punya, saya bilang Bisa Pak. Saya menanyakan kepadanya bisa tidak setiap hari dia menyisihkan 20 ribu sebulan? Dia menjawab bisa, bahkan lebihpun bisa. Baiklah mari sama sama kita hitung. Kalau 1 hari bisa mengumpulkan 20 ribu tanpa mengurangi modal dan keuntungan , satu bulan terkumpul 20.000 x 30 hari = 600 ribu. Sebuah angka yang lumayan besar untuk di tabungkan. Kalau sebulan saja 600 ribu maka satu tahun menjadi Rp 600.000 x 12 bulan = Rp 7.200.000 . Lalu bagaimana kalau sepuluh tahun? Sepuluh tahun kemudian , Rp 7.200.000 x10 tahun = Rp 72 .000.000,- ( Tujuh Puluh Dua juta rupiah) .

Jadi kalau anak bapak usia sekarang 8 tahun, maka di usia 18 tahun kalau rutin menabung selama sepuluh tahun minimal ada saldo di tabungan sejumlah 72 juta. Sang Pedagang Sayur pun tertegun dan tidak menyangka dia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu di masa depan. Selama ini uangnya habis tidak karuan karena tidak memiliki perencanaan menabung . 

Pertanyaan pun berlanjut, “di mana saya harus menabung”? Kalau menabung di Bank pasti uangnya habis habis juga dan keambil buat modal usaha. Dia menjawab benar, karena itu dia tidak pernah memiliki tabungan . Saya katakan Bapak bisa saja ambil Asuransi Pendidikan di salah satu perusahaan asuransi. Tinggal di pilih mana yang cocok dan sesuai kemampuannya. Pastikan tiap bulan preminya dibayarkan secara konsisten.Jangan diambil ambil demi masa depan pendidikan anaknya nanti. Dari kisah saya tersebut dapat disimpulkan bahwa rencana  pendidikan anak bisa dilakukan oleh siapa saja. Oleh saya yang memiliki historis keluarga yang banyak atau anda semua yang masih diberi kesempatan memiliki usia produktif dan memiliki penghasilan yang cukup .

TAMBAHAN 
 #ajari anak kita menabung di celengan, sebagai contoh ajari anak menaruh uang receh semisal 100 perak,200 perak,lima ratus perak dan seribu perak . Ini mengajari mereka akan sebuah perjuangan .Bila ingin sesuatu hendaknya menabung terlebih dahulu. 
#jangan tergoda memasukkan anak ke kindergarden,Sekolah Taman Kanak kanak  (TK)  yang sangat mahal , karena biaya yang lebih penting adalah pada saat mereka kuliah nantinya. Dengan masuk ke TK yang biasa saja, maka kelebihan dana nya bisa ditabungkan.
 #Menabunglah untuk keperluan dana darurat keluarga  di Bank (negeri maupun swasta). Untuk  jangka pendek  berguna untuk pendidikan anak di masa depan. Semoga bermanfaat. Berhemat bukanlah pangkal kaya, berhemat hanya mengumpulkan sesuatu yang kecil menjadi besar,berhemat kemudian menabung di tempat yang tepat maka tujuan kekayaan pun akan tercapai. Begitupun dengan Dana Pendidikan. Berhemat untuk biaya pendidikan akan lebih pas kalau ditambah dengan merencanakan dana pendidikan di asuransi pendidikan yang terpercaya.


SEMOGA BERMANFAAT
                                             =====================================
Note : Tulisan ini gubahan dari tulisan saya pribadi di Kompasiana

Comments

Popular posts from this blog

Menyoal Kecerdasan Anak , Pastikan Pencernaannya Sehat

Wuling dan The Real Spacious Family MPV

Memberikan yang Terbaik, Nelpon, SMS kini gak pakai pulsa lagi