Menyoal Audisi Beasiswa Bulutangkis dan Eksploitasi Anak

Punya anak berprestasi itu sungguh luar biasa. Bangga sebagai orang tua karena anak anaknya berbeda dengan anak kebanyakan. Prestasi anak tentunya akan berbanding lurus dengan mindseti dan juga tentu hasil berupa  materi yang melimpah di masa depan tentu akan menambah semangat mereka. Benarkah demikian? 
=========
Narasumber yang setia pada pelindungan anak

Saya sangat terkejut, ketika mendapatkan informasi di luaran sana  ada banyak kegiatam yang dianggap meng eksploitasi  terhadap anak. Manfaatkan potensi anak untuk kepentingan industri, hiburan maupun olahtaga.  Saya meyakini banyak orang tua yang melakukannya dengan tidak sadar. Selain pemahaman literasi hukum yang kurang, peran stake holder dalam pelindungan hak anakpun dirasa kurang.  

Sebagai contoh yang lagi marak adalah soal audisi beasiswa bulu tangkis yang diselenggarakan oleh perusahaan rokok di Indonesia. Pro kontra pun bermunculan. Orang tua banyak yang  menganggap kegiatam itu hanya sebuah audisi dan tidak berbahaya bagi anak anak mereka . Sekarang atau di masa depan.  Yang penting anak tidak disuruh merokok para orang tua tidak masalah tentang penggunaan kaos bertuliskan nama  produsen rokok. Padahal penelitian banyak membuktikan alam bawah sadar porsinya lebih besar dibandingkan alam sadar kita. "Tinggal dicolek saja, maka apa yang tifak diingat sebelumnya akan menjadi ingat" Kata Liza Djaprie , salah seorang psikolog anak yang diundang dalam  acara focus group discussion (FGD)  bersama lentera anak Sabtu (30/3/2019) di Auditorium Perpustakaan Kemendikbud. 
Liza Djaprie, Psikolog Anak yang banyak memberikan informasi mengenai mindset anak, orang tua dan pelaku bisnis

Dari hal semisal audisi bulu tangkis yang dilakukan salah satu merk rokok , tentu  ke depannya akan menjadi budaya permisif dimana orang tua melegalisir praktik praktik seperti itu. Rasa menganggap biasa saja dan membolehkak anak anak menjadi  olahan industr rokok yang secara implisit menjadi target pengguna rokok di masa depan.

Yang Kontra 

Sementara yang kontra berbeda lagi pandangannya. Yayasan Lentera Anak dibawah pimpinan Lisda Sundari , Pendiri  yayasan ini  dan  konsern dalam membuat kajian tentang eksploitasi anak . Yayasan Lentera Anak menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh perusahaan rokok yang melaksanakan audisi dengan melibatkan ribuan anak di mana penggunaan pakaian/ baju berlogo , bertuliskan nama merk rokok (secara  font  tulisan sama persis  dengan logo produk rokok ) adalah sebuah eksploitasi anak. 
Penandatangan Petisi Menolak Eksploitasi Anak dalam Audisi Beasiswa Anak Bulutangkis

Perusahaan rokok dianggap menggunakan anak sebagai strategi marketing nya. Karena dari penelitian yang dilakukan tanggapan orang /masyarakat terhadap fenomena ini mayoritas berkata itu adalah nama rokok.  Anak anak yang berbaris rapi  dengan kaos bertuliskan nama rokok Indonesia di dadanya. Sementara tulisan Indonesia ditulis dengan font yang lebih kecil. Itupun nanti akan tidak terlihat jelas karena tertutup nomor peserta. Audisi inipun semakin membekas di benak anak anak karena ada di channel YouTube penyelenggara yang bisa diakses kapanpun dan di manapun oleh siapapun yang berkepentingan. Secara umum Yayasan Lentera Hati mengajak kepada aktivis, orang tua untuk lebih aware terhadap anak anak. Dan kepada industri rokok rekomendasinya adalah menghentikan eksploitasi anak dengan bungkusan baju atau kostum yang tertera logo industri rokoknya. 


#Semogabermanfaat


Comments

  1. Astaga bahkan logo Djarumnya tidak boleh ditutup ya pak. Hmm..miris rasanya melihat calon generasi bangsa sudah dititipi pesan rokok semenjak dini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

17 Tahun K-Link Indonesia, Sweet Seventeen Bisnis K-Link Online Berbasis Syariah

Kun Saraswati : Luncurkan Debut Single “Done” Yang Bikin Move On Anak Millenial